Halo, kamu yang lagi nyari bacaan cozy buat nemenin sore hujan!
Musim hujan itu punya vibe yang unik, antara romantis, sendu, dan reflektif. Pas banget buat baca novel yang bisa nyentuh hati dan bikin pikiran hangat lagi.
Nah, kalau kamu suka suasana mendung sambil dengerin playlist mellow, berikut 5 rekomendasi novel bertema hujan yang siap menemani kamu dari Oktober sampai Desember. Siapkan selimut, headset, dan secangkir kopi atau teh. Yuk, kita mulai!
1. Hujan – Tere Liye
Klasik tapi selalu ngena.
Novel ini bukan Cuma soal cinta Lail dan Esok yang tumbuh di tengah bencana gunung meletus, tapi juga tentang kehilangan, keberanian, dan makna melupakan. Tere Liye menulis dengan gaya yang lembut tapi dalam, kayak hujan yang turun pelan-pelan tapi bikin hati banjir perasaan.
Kamu bakal diajak nostalgia tentang cinta yang nggak sempat selesai, kehilangan yang perlahan diterima, dan keberanian buat melanjutkan hidup di dunia yang berubah total. Tiap babnya seolah punya aroma tanah basah dan bunyi rintik yang nyata, bikin kamu ngerasa kayak lagi jalan di tengah hujan sambil mikir: “Kenapa ya, yang pergi masih terasa dekat?”
Yang bikin Hujan menarik buat dibaca saat musim hujan adalah atmosfernya. Tiap bab seolah punya aroma tanah basah dan bunyi rintik yang nyata. Kamu bakal diajak mikir: apa kebahagiaan itu bisa diprogram, atau harus dirasakan dari hati?
Lagu yang cocok: “To the Bone” (Pamungkas)
Vibe: melankolis, reflektif, cocok buat kamu yang suka mikir dalam diam sambil nonton hujan dari balik jendela.
2. Festival Hujan – Nurun Ala
Kalau kamu pernah patah hati sampai bingung gimana cara mulai lagi, Festival Hujan bakal jadi teman terbaikmu di sore yang sendu. Novel ini bercerita tentang Rania, gadis yang hidupnya penuh kemalangan, dari kehilangan, patah hati, sampai rasa sepi yang nggak berujung. Suatu hari, di tengah masa kelabu, hadir Tama, pemilik toko buku kecil di seberang rumahnya. Dan, seperti hujan pertama setelah musim kemarau panjang, kehadiran Tama perlahan membawa Rania kembali mencintai hidup.
Yang bikin Festival Hujan istimewa bukan Cuma kisah cintanya, tapi juga perjalanan batin Rania untuk menemukan kebahagiaan yang selama ini ia cari di luar dirinya. Setiap percakapan di toko buku, setiap bunyi hujan di luar jendela, terasa seperti proses penyembuhan.
Nurun Ala menulis dengan bahasa yang puitis tapi ringan, setiap kalimatnya terasa seperti percikan air di kaca jendela: jujur, lembut, dan kadang bikin refleksi diri. Kamu bakal dibuat bertanya-tanya, apakah bahagia itu bisa ditemukan lewat orang lain, atau harus tumbuh dari dalam diri sendiri?
Sampul bukunya juga aesthetic banget, cocok buat kamu yang suka koleksi buku cantik di rak. Dengan tone warna lembut dan nuansa hujan yang syahdu, novel ini nggak cuma enak dibaca tapi juga enak dipandangi.
Lagu yang cocok: “Coffe” (Beabadoobee)
Vibe: cozy, healing, cocok buat kamu yang suka nongkrong di kafe pas hujan sambil baca buku dan denger musik lo-fi.
3. Aku Tak Membenci Hujan – Sri Puji Hartini
Kalau dua novel sebelumnya bicara tentang cinta dan penyembuhan, maka Aku Tak Membenci Hujan hadir dengan nada yang lebih dalam, tentang luka masa kecil, penolakan, dan perjuangan menemukan kasih saying yang sederhana tapi bermakna.
Tokoh utamanya, Karang, hidup dalam situasi yang nggak mudah. Ia tumbuh tanpa kasih saying ibu, malah sering dianggap kesalahan yang seharusnya nggak pernah lahir. Tapi di balik semua itu, Karang tetap berusaha menjadi hangat, meski dunia sering dingin padanya. Ia belajar bertahan, bahkan ketika satu-satunya yang menemaninya cuma suara hujan di balik jendela.
Novel ini bikin kamu berhenti sejenak dan berpikir: kenapa kadang orang yang paling kita sayangi justru jadi sumber luka terdalam? Sri Puji Hartini menulis dengan cara menyentuh, jujur, dan emosional. Setiap bab terasa seperti percakapan pribadi dengan hati sendiri, tentang berdamai, tentang memaafkan, dan tentang menemukan makna kasih sayang di tempat yang tak terduga.
Meski ada adegan yang keras dan menyakitkan, pesan yang dibawa sangat kuat, cinta dan pengampunan bisa tumbuh bahkan dari hati yang pernah remuk. Karang mengajarkan kita untuk tetap hangat meski hidup seringkali dingin dan basah oleh air mata.
Lagu yang cocok: “Fix You” (Coldplay)
Vibe: emosional, reflektif, cocok buat kamu yang lagi pengin merenung sambil dengeri suara hujan dan nulis sesuatu di notes.
4. Dago Setelah Hujan – SkySphire
Kalau kamu pernah ngerasa hubungan yang awalnya indah tiba-tiba retak karena satu rahasia kecil yang akhirnya tumbuh jadi badai, novel ini bakal nyentuh banget. Dago Setelah Hujan bukan kisah cinta manis, tapi kisah tentang kejujuran, penyesalan, dan keberanian untuk melepaskan.
Cerita ini melanjutkan perjalanan Dago dan Mentari, pasangan yang tanpak sempurna. Setelah beberapa tahun pacaran, akhirnya mereka menikah, berharap bisa hidup bahagia “sampai maut memisahkan.” Tapi, sebelum hari pernikahan, Dago baru tahu kenyataan pahit, ia punya seorang anak bernama Hujan, hasil dari masa lalu yang tidak bisa dihapus.
Rahasia itu disembunyikan, dan pernikahan tetap dilanjutkan. Tapi kayak langit yang nggak bisa selamanya menahan awan, kebohongan itu akhirnya pecah juga. Hubungan yang dibangun atas fondasi rahasia mulai retak. Satu per satu, hal yang dulu terasa manis berubah getir.
SkySphire menulis dengan cara yang intens dan realistis banget, kamu bakal ikut marah, kecewa, tapi juga kasihan. Novel ini bukan Cuma drama, tapi juga refleksi tentang betapa pentingnya kejujuran dalam hubungan. Bahwa cinta tanpa keterbukaan ibarat rumah tanpa atap, seindah apa pun, akan tetap bocor ketika hujan datang.
Kalimat-kalimatnya tajam tapi puitis. Emosinya dapet banget, apalagi saat Dago dan Mentari harus duduk berdampingan di ruang siding, menatap satu sama lain, dan menyadari, kadang cinta nggak cukup untuk tetap bersama.
Lagu yang cocok: “Falling Like the Stars” (James Arthur)
Vibe: dramatis, dewasa, cocok buat kamu yang udah belajar bahwa cinta nggak selalu berarti “memiliki” tapi juga “berani melepas”.
5. Rinduku Sederas Hujan Sore Itu – J.S. Khairen
Dari judulnya aja udah terasa lembut dan dalam, ya?
Novel ini bukan cuma kumpulan cerita pendek, tapi juga kumpulan rasa. Dalam Rinduku Sederas Hujan Sore Itu, J.S. Khairen meramu 28 kisah pendek dan sajak yang bercerita tentang cinta, kehilangan, rindu, dan refleksi diri, semua dibungkus dalam suasana hujan yang puitis dan menenangkan.
Buku ini nggak cuma tentang hubungan dua orang, tapi juga tentang dialog antara manusia dan dirinya sendiri. Tiap cerita seperti surat kecil dari semesta yang mengingatkan kita: bahwa yang sederhana pun bisa sangat berarti.
Yang bikin Rinduku Sederas Hujan Sore Itu special adalah bagaimana Khairen menulis empati yang tulus. Ia bisa masuk ke berbagai sudut pandang, perempuan, laki-laki, bahkan hewan, tanpa kehilangan kehangatan. Di tiap halaman, kamu akan menemukan refleksi kecil yang bikin senyum tapi juga bikin nyesek pelan.
Sajak-sajaknya ringan, tapi sering nyentuh sisi terdalam hati, kadang kamu bakal berhenti baca, menatap jendela, sambil berpikir: “Kenapa ya, rindu bisa sesederhana tapi sesakit ini?”
Lagu yang cocok: “Komang” (Raim Laode)
Vibe: hangat, romantis, dan reflektif, cocok buat kamu yang suka menulis puisi atau merenung sambil melihat tetesan air di kaca jendela.
Lima Cerita, Satu Suasana, dan Jutaan Rintik Hujan
Musim hujan selalu punya cara untuk menyatukan rasa. Dari kisah Lail dan Esok, Rania dan Tama, Karang, Dago, dan Mentari, hingga sajak-sajak Khairen, semuanya membawa kita pada satu kesimpulan:
Kadang, hujan datang bukan untuk membuat kita sedih, tapi untuk mengingatkan bahwa kita masih bisa merasakan.
Jadi, entah kamu pemburu suasana mellow, pecinta kata, atau penikmat kopi dan bunyi rintik sore hari, semoga deretan novel ini bisa jadi teman terbaikmu di bulan-bulan yang basah oleh kenangan dan rindu.
Penulis: Risang Palgunadi

